SEJARAH

Gerakan Peduli Lingkungan (GPL)

Pengelolaan Sampah Terpadu di Pondok Pekayon Indah, Bekasi Selatan

GAMBARAN ORGANISASI GERAKAN PEDULI LINGKUNGAN (GPL) adalah kelompok masyarakat yang mempunyai komitmen yang tinggi dalam upaya turut melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. GPL lahir tanggal 4 April 2003, dipelopori oleh MTIID (Majelis Ta’lim Ibu-ibu Darussalam) dan HIPPI (Himpunan Pemuda Pondok Pekayon Indah). GPL mempunyai visi untuk menciptakan Pondok Pekayon Indah menjadi lingkungan yang bersih, sehat, asri, harmoni dan lestari serta memberdayakan masyarakat dalam bidang pengelolaan dan pelestarian lingkungan. Program GPL yang utama adalah pemberdayaan masyarakat, pemilahan dan pengomposan sampah, serta pembibitan/penghijauan. Beberapa Unit Pengembangan GPL sudah dibentuk yaitu: Unit Pengelolaan Kompos Kawasan, Unit Taman Bacaan, Unit Arisan GPL, Unit Buletin dan Unit GPL Kids. Saat ini GPL mempunyai 30 kader dan 70 relawan. GPL beroperasi di Bekasi dan Jakarta.
URAIAN KEGIATAN Motif: Masalah persampahan mutlak ditangani secara bersama-sama antara pemerintah, komunitas masyarakat/lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran dan komitmen secara kolektif menuju perubahan sikap/perilaku dan etika yang berbudaya lingkungan. Langkah terpenting yang perlu dilakukan adalah pendekatan mengurangi sampah yang masuk ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir), dimana kunci keberhasilannya terletak dari upaya pengurangan sampah yang dimulai dari sumbernya. Kegiatan: GPL mengadakan pelatihan untuk para kadernya, agar mereka dapat membantu melakukan pemilahan sampah dan pengomposan sebagai bagian kehidupan sehari-hari masyarakat, dan mengembangkan gerakan penghijauan dan pembibitan tanaman. GPL melaksanakan kegiatannya dengan target sasaran dari berbagai kalangan masyarakat, seperti siswa sekolah/pelajar (terutama TK dan SD), anggota PKK (Program Kesejahteraan Keluarga), RT, RW dan organisasi keagamaan di komplek perumahan Pondok Pekayon Indah. Tahun 2007-2008, GPL ditunjuk sebagai Stakeholder PPK-IPM (Program Pendanaan Kompetisi – Indek Pembangunan Masyarakat) untuk Jawa Barat, dengan mengadakan kegiatan ToT (Training of Trainer) untuk 24 kader dan memandu kegiatan replikasi ke 4 kelurahan dengan jumlah peserta 100 orang. GPL juga menggalakkan kembali kebun TOGA (Tanaman Obat Keluarga), pengomposan skala kawasan, dan meningkatkan produksi kerajinan dari limbah seperti plastik, botol, kertas dan kulit telur. Kelompok ini membudidayakan sayuran organik di lahan percontohan, dan yang terakhir GPL menerbitkan buletin setiap 2 bulan untuk menyebarkan informasi mengenai kegiatan yang akan dan sudah dilakukan kepada masyarakat. Hasil: Perumahan Pondok Pekayon Indah menjadi salah satu titik pantau penilaian program Adipura tingkat nasional karena dinilai telah secara proaktif melakukan kegiatan peningkatan lingkungan, khususnya proses pembuatan kompos kawasan dan penghijauan. Kapasitas produksi kompos minimum sebesar 2.000 kg/bulan dengan menggunakan bahan baku 6.000 kg sampah organik. Bahan baku yang digunakan berasal dari timbulan sampah 600 KK di 4 (empat) RW dengan laju timbulan sampah 1/3 kg/hari/KK. Biaya operasional per bulan unit pengolahan kompos ini mencapai Rp 1.500.000. Kompos yang diproduksi dijual ke masyarakat sekitar dengan harga Rp. 3.500 per 2 (dua) kilogram dan untuk produk daur ulang dijual dengan kisaran harga Rp. 10.000 – Rp. 100.000. Warga didorong untuk berpartisipasi secara aktif dengan memberikan insentif 10% dari hasil penjualan kompos. Kegiatan pengelolaan sampah dan gerakan penghijauan yang telah dilakukan GPL menghasilkan berbagai penghargaan seperti Juara I Lomba Kreatifitas Daur Ulang Sampah yang diselenggarakan oleh KLH dan MNUPW pada Desember 2003, Penghargaan dalam bidang Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga dari Walikota Bekasi pada Desember 2004, Penghargaan sebagai Pelopor Peduli Lingkungan dari Walikota Bekasi Juni 2005, Juara II Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga Tingkat Provinsi Jabar dari Gubernur Jabar Juli 2005 dan Juara I Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga Tingkat Kota Bekasi Juli 2005.
FAKTOR PENDUKUNG Kegiatan semakin diperkuat dengan terlibatnya siswa sekolah, anggota PKK, serta warga RT dan RW, yang berkontribusi dalam menopang keberlanjutan kegiatan. Demikian juga dengan bertambah banyaknya kader yang mampu melakukan penyuluhan dan menularkan ke pihak lain. Perhatian dari pihak Pemerintah Kota Bekasi cukup besar terbukti dengan diberinya hibah seperangkat alat-alat/perlengkapan pengelolaan kompos serta kerajinan kepada GPL. Dana untuk menunjang kegiatan diperoleh dari kegiatan penyuluhan baik dari undangan dari pihak luar, maupun dari tamu yang datang berkunjung ke GPL. Selain itu, dana diperoleh juga melalui penjualan kompos, tanaman, dan kerajinan/suvenir yang dibuat seperti T-shirt, jam, tas, pin dan buletin GPL.
TANTANGAN Tantangan untuk meningkatkan kualitas lingkungan Pondok Pekayon Indah menjadi prioritas GPL sebagai unit percontohan kawasan pengelolaan sampah terpadu. Motivasi yang terus menerus diperlukan demi meningkatnya kesadaran warga masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah atau membuat kompos dan penghijauan di rumah. Program kaderisasi menjadi sangat penting untuk mencetak Kader/Motivator yang handal sebagai pemeran utama dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat Demi berkesinambungannya program, GPL akan mengajukan permohonan ke pemerintah dan sektor swasta untuk mendapatkan bantuan/fasilitas. KONTAK INFORMASI Nama : Ir. Lala Gozali Alamat : Pondok Pekayon Indah, Blok A3 No 3, Bekasi Telepon : (021) 8204479, 8204510Fax : (021) 8204510 E-Mail : lala_gozali@yahoo.co.id
Slide1

Dia adalah Ny Harini Bambang Wahono yang dikenal sebagai pemerhati dan pecinta lingkungan. Atas dedikasinya terhadap lingkungan mengantarkan janda berusia 79 tahun ini menerima penghargaan bergengsi bidang lingkungan. Salah satunya adalah Kalpataru. Di usianya yang tidak muda lagi, Harini masih eksis mengabdi untuk lingkungan hidup terutama di Kampung Banjarsari yang mempelopori kampung hijau ditengah ibukota Jakarta.

Harini_Bambang_Wahono

Harini memulai kisah mulanya merintis Kampung Banjarsari hingga menjadi kampung percontohan. Awalnya hanya dimulai dari sekitar rumahnya saja, dia menanam beberapa tanaman bermanfaat. Setelah di kawasan rumahnya, Ny Bambang ini berusaha untuk mendekati warga satu demi satu. Mulanya cukup sulit, namun semua itu dijalaninya dengan semangat dan pantang menyerah. Sedikit demi sedikitpun masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya mulai tergugah untuk ikut mempedulikan lingkungan.

Slide1

 

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *